Skizofrenia, Bukan Sekadar Gila

Skizofrenia mungkin masih agak asing bagi sebagian besar masyarakat awam. Orang cenderung menyamakan penderita skizofrenia sebagai orang gila dan harus dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Memang, penderitanya harus mendapat penanganan yang tepat agar bisa sembuh. Akan tetapi skizofrenia tidak hanya berhubungan dengan kegilaan pada umumnya.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit ini. Menurut data, satu persen dari seluruh total penduduk dunia adalah penderita skizofrenia. Penyebabnya adalah adanya ketidakseimbangan pada dopamin dan menyebabkan gangguan. Dopamin ini sendiri adalah salah satu sel kimia yang terdapat di otak.

Penderita skizofrenia bukanlah orang-orang yang berbahaya bagi lingkungannya. Dengan dukungan yang tepat, mereka akan dapat bekerja dengan sama baiknya seperti halnya orang-orang normal lainnya. Jadi, tidak perlu takut akan mendapat gangguan atau teror dari mereka.


Ciri khas skizofrenia adalah menarik dari dari lingkungan sosial dan hubungan personal, serta hidup dalam dunianya sendiri. Lalu diikuti dengan delusi dan halusinasi yang berlebihan dan tentu saja keliru. Belum lagi munculnya kecemasan secara berlebihan. Semuanya akan semakin parah dan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Sayangnya, di negara kita penderita skizofrenia umumnya tidak mendapat pengobatan yang memadai. Sehingga kian hari keadannya semakin memprihatinkan. Masyarakat awam malah memilih untuk memasung mereka.

Tiga perempat penderita skizofrenia mulai menderita gejala penyakit ini pada rentang usia 16 hingga 25 tahun. Sekali lagi, masalah ini bisa diatasi jika segera mendapat penangan yang tepat, tentunya dari tenaga profesional. Jadi, bukan ditangani sendiri atau diberi obat-obatan tanpa rujukan dari ahlinya.

Psikolog dan psikiater adalah pihak yang pantas didatangi begitu ada masalah. Apa kira-kira tanda-tanda seseorang menderita skizofrenia pada tahap awal?

Pertama, pertanda bahwa seseorang itu bisa jadi mengidap skizofrenia adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan emosi dengan tepat. Misalnya saja tertawa ketika mendengar berita duka, berwajah dingin menghadapi semua persoalan, jarang sekali tersenyum, atau bersikap acuh pada semua kondisi di sekitarnya.

Artinya, seseorang tidak mampu menunjukkan simpati dan empati pada tempatnya. Malah cenderung tidak peduli. Ada juga penderita skizofrenia yang cenderung menjadi penuh curiga dan menganggap semua orang sebagai musuh dan menjadi penyendiri.Penderita skizofrenia juga sering mengganggu dan tidak disiplin. Selain itu tidak mampu fokus pada satu kegiatan yang butuh perhatian penuh. Juga ada penurunan terhadap dorongan untuk beraktivitas dan berkurangnya kemampuan untuk berbicara.

Penderita penyakit skizofrenia ini juga tidak mampu bersenang-senang atau menikmati kegiatan yang biasanya menghibur hatinya. Anak bayi dan anak kecil juga dapat terjangkit penyakit ini. Salah satu pemicunya adalah faktor keturunan yang memang tidak dapat dihindari.

Pada anak-anak, gejala skizofrenia harus melewati serangkaian penelitian yang sangat hati-hati. Karena sulit untuk dibedakan dengan autisme, ADHD, atau sindrom Asperger. Jadi, diagnosis tidak dapat diambil dengan gampangnya. Karena harus ada ahli yang mengevaluasi anak dengan teliti.

Jika terjadi salah diagnosa, tentu akan berakibat fatal pula. Karena dapat dipastikan skizofrenia tidak akan sembuh, melainkan kian bertambah parah. Selain faktor keturunan atau genetik, stresor juga dapat mendorong munculnya skizofrenia. Namun, seseorang yang keluarganya tidak mempunyai riwayat skizofrenia sekalipun bisa terkena penyakit ini. Biasanya karena mengonsumsi obat-obatan terlarang dalam jangka waktu lama.

Penderita skizofrenia membutuhkan kehadiran keluarga dalam proses penyembuhannya yang panjang. Sikap terlalu mengontrol tidak dianjurkan. Begitu juga dengan sikap selalu mengkritik atau terlalu perhatian dan memanjakan. Hal-hal seperti itu justru akan membuat penderita merasa frustasi dan mempersulit proses untuk sembuh.

Penderita skizofrenia seharusnya dirawat dengan kombinasi yang pas. Yaitu mengonsumsi obat-obatan antipsikotik dan perawatan psikologis dari ahlinya. Dengan cara ini barulah kemajuan bisa dicapai.

Penderita Skizofrenia membutuhkan dukungan tanpa henti dari anggota keluarganya, agar cepat mencapai kesembuhan seperti sedia kala. Keluarga yang sangat memahami tentang skizofrenia akan membuat penderita segera pulih. Sebaliknya yang akan terjadi jika pemahaman keluarga terhadap penyakit skizofrenia ini sangat minim atau nol. Karena otomatis penderita tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya untuk keluar dari problem ini.

Di Indonesia, ada sebuah komunitas yang mendukung para penderita skizofrenia untuk memperoleh kembali kesehatan mentalnya. Komunitas ini diberi nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia atau biasa disingkat KPSI. Kegiatan utama komunitas ini antara lain mengedukasi masyarakat tentang skizofrenia. KPSI juga menjadi wadah bagi keluarga penderita untuk saling berbagi mengenai permasalahan dan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi.

Apakah Anda pernah mendengar nama John Nash? Nash adalah seorang doktor di dunia matematika dan sukses meraih hadiah nobel pada 1994. Ternyata, Nash menderita skizofrenia. Namun akhirnya dia berhasil sembuh seperti sediakala meski rumahtangganya sempat mengalami kehancuran.

Kisah Nash yang seorang skizofrenia diangkat ke layar lebar dan diperankan dengan gemilang oleh Russel Crow beberapa tahun silam. Crow berhasil berakting dengan luar biasa dan dihujani banyak penghargaan untuk penampilan di film tersebut. Film berjudul “A Beautiful Mind” ini diproduksi pada 2001 dan didukung juga oleh Jennifer Connely dan Ed Harris.

Kisah “A Beautiful Mind” memang tergolong luar biasa. Mengisahkan bagaimana John Nash bangkit dari keterpurukan akibat skizofrenia hingga akhirnya berhasil sembuh. Awalnya, Nash berkuliah di Princeton setelah mendapat beasiswa. Meski berotak cemerlang, Nash tidak suka dengan dunia perkuliahan yang menurutnya hanya membuang banyak waktu saja. Nash banyak membolos karena berpandangan bahwa dunia perkuliahan mengekang kreativitasnya dan menumpulkan otak cemerlangnya. Nash lebih banyak belajar secara otodidak di luar kelas hingga akirnya berhasil meraih gelar doktor. Pada saat itu, John Nash sebenarnya sudah mulai menderita skizofrenia. Dia memiliki dua orang teman khayal. Namun, Nas sama sekali tidak mengetahui kalau keduanya adalah hasil dari halusinasinya belaka.

Nash mengira keduanya adalah nyata, sama seperti dirinya. Keadaan Nash sebagai penderita skizofrenia semakin parah hari demi hari. Hingga akhirnya dia pun bercerai dari istrinya. Akan tetapi, untung saja Nash akhirnya berhasil sembuh dengan upaya yang luar biasa sulit. Jika tidak, tentu dunia tidak pernah memiliki ahli matematika sehebat Nash.

Di bagian akhir film, ada adegan yang menggelitik. Jika seseorang yang asing baginya mengajak bicara, Nash akan buru-buru memanggil salah satu mahasiswanya. Lalu dia akan bertanya, “Apakah orang ini nyata?” sambil menunjuk ke arah orang asing tadi. Jika mahasiswanya meyakinkan bahwa orang tersebut memang nyata, barulah Nash bersedia berbicara dengan orang tersebut.

Nash berupaya agar bisa sembuh total dan tidak kembali menderita skizofrenia seperti sebelumnya. Di ajang Academy Award, film “A Beautiful Mind” ini sendiri berhasil meraih mahkota sebagai film terbaik 2001. Suatu pencapaian yang sangat mengagumkan.

Akting Russel Crowe sendiri mendapat pujian dari berbagai kritikus film di seluruh dunia.Jika diperhatikan lagi, masa kini banyak sekali film atau serial Hollywood yang mengangkat kisah tentang penderita skizofrenia ke layar kaca. Karena masalah yang dihadapi begitu kompleks, kadangkala, halusinasi yang berlebihan membuat seseorang melakukan hal-hal bodoh dan berbahaya. Bahkan tidak jarang yang berujung dengan pembunuhan.

Ini mungkin salah satu cara para sineas untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit ini serta pentingnya perawatan yang tepat dan disiplin untuk menyembuhkan. Skizofrenia harusnya mendapat perhatian penting karena kondisi penderitanya seringkali berakhir dengan kemalangan yang tidak berujung.

Padahal mereka, para penderita skizofrenia, dapat sembuh dan hidup seperti layaknya manusia normal lainnya. Kita harus memberi kesempatan bagi mereka. Bukan dengan cara mengucilkan mereka karena menganggap sebagai gangguan.

Peliculas Online

Title Post: Skizofrenia, Bukan Sekadar Gila
Rating: 100% based on 999998 ratings. 98 user reviews.
Author: Borneo08

Terimakasih sudah berkunjung di blog ini, Jika ada kritik dan saran silahkan tinggalkan komentar

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...